Sebuah blog yang berisi dengan tulisan, tulisan, dan tulisan. (dan tulisan lagi)
Monday, 24 January 2022
Saturday, 3 December 2016
Surat mengkhawatirkan
Kau adalah batu yang keras dan aku adalah angin yang hanya melintasi hidup ini sambil berlayang santai namun keras ketika badai menghampiri.
Air mulai mengikis dirimu yang keras itu, namun tidakkah kau lihat? Batu keras yang diterpa akan menjadi sesuatu yang lebih bagaikan besi. Terpaan itu tertutupi oleh air yang sedikit demi sedikit mengurasmu itu.
Air yang bagaikan pukulan palu besi di tumbukan kepadamu oleh tuhan itu bukanlah sebuah penyiksaan untukmu, melainkan sebuah jalur untuk menjadikan dirimu sebuah permata. Siksaan itu akan selalu membantumu untuk menjadi lebih baik.
Namun apabila engkau tak dapat melihat air yang menimpamu itu tidak lain dari siksaan yang tidak berguna atau bahkan merugikan, maka air itu akan mengikismu habis.
Tidak ada cara lain untuk menghentikan air itu, kecuali dengan kekukuhanmu.
Jangan buat air itu mengikismu habis.
- Dari angin yang telah melintasi suratmu
Friday, 25 November 2016
Monday, 21 November 2016
Dunia Baru
"Tidak tahu."
sedikit pengumuman untuk petualangan dunia baru
gua sebagai penulis ini sangatlah pemalas dan saya minta maaf untuk itu.
dan seri itu baru tiga chapter udah ga dilanjutin wakakakak
tetapi! gua akan tetap melanjutkan web novel itu, tetapi dengan beberapa perubahan sedikit.
yakk dan sekarang gua akan menulis chapter pertama --untuk kedua kalinya-- web novel petualangan dunia baru
Saturday, 19 November 2016
Perjalanan hidup
Air mengalir dengan sendiri nya
Bebatuan yang menghalang tatkala akan terhanyut olehnya
Namun dengan bertemunya sungai dan danau
Air akan menghilang bersama laut...
Friday, 18 November 2016
Tuesday, 15 November 2016
Hati kawanmu
Tiada rintik air jatuh darinya.
Bagaikan batu yang keras menahan terjunan air yang besar
kuyakin sudah terkoyak dalamnya
bagaikan atap bocor yang ditambal
Aku tidak mengasihani batu itu
Tapi aku ada untuk batu itu
Kami, angin yang akan mengalihkan air
Monday, 24 October 2016
Thursday, 20 October 2016
Renungan Hati
Bintang tanpa bulan
Tampak sedih bukan?
Tapi bulan tanpa bintang
Terlihat kesepian bukan?
Bulan terkadang muncul tanpa bintang
Begitu juga dengan bintang
Memang semestinya
Bulan muncul tanpa bintang
Bintang muncul tanpa bulan
Memang semestinya
Namun ketika berdua
Senang sekali terlihat
Friday, 14 October 2016
Wednesday, 5 October 2016
Renungan Ketabahan
Terasa berat hatiku. Sungguh.
Ketika aku memasuki ruangan aku terasa berat.
Dimana aku harus menjadi salah satu penopang ruangan ini.
Hari demi hari.
Hatiku terus terkoyak namun ragaku tetap tegar
Mungkinkah hati yang terkoyak mampu menopang badan ini?
Aku takut
Sungguh
Aku takut
Apabila aku terjatuh siapakah yang akan menopang ruangan itu?
Apakah hatiku masih akan tetap kuat?
Sungguh aku disini terkoyak
Tapi badan tetap bertahan
Sunday, 18 September 2016
Abandoned but not forgotten
Friday, 2 September 2016
Halo dari kampus!
Namun gua disini membuat post blog ini bukan untuk mengeluh. Gua sedikit sadar kalo memang ingin merubah sesuatu kita harus memulai dari diri sendiri. Namun pernahkah kalian merasakan rasa yang pernah kurasakan ini?
Jujur sebenernya sih gua ga tau apa yang pengen gua tulis disini. Gua hanya ingin menulis sesuatu dan ini adalah hasilnya. Ga berstruktur tetapi semoga bermanfaat. (walaupun sepertinya sih ngga wakakakak)
HAVE A NICE DAY GUYS!
Thursday, 21 July 2016
Monday, 11 July 2016
Di Tinggalkan Tapi Tak Terlupakan
"Rina?-" secara bersamaan dia juga membalas, "Dino?"
Seseorang yang takku kira akan bertemu lagi, Rina denganku pernah berhubungan dahulu namun setelah aku bertemu dengannya lagi aku tidak mengingat mengapa aku berpisah dengannya.
Kami berbalas kalimat-kalimat basa-basi seperti, "kamu bagaimana?", "apakah kamu sehat?", dan yang lainnya sampai Rina tiba-tiba mengajakku untuk makan malam. Untuk 'masa lalu' katanya.
Rina duduk di seberang meja dariku, disaatku perhatikan sepertinya ia menjadi semakin menawan setelah berpisah denganku. Aku akui setelah aku bertemu dengannya lagi, aku merasa ketertarikanku kepadanya kembali. Entah mengapa, dan kupikir selagi aku sedang bersamanya mengapa tidak berusaha membalikan hubungan kita lagi. Ya, demi 'masa lalu' tentunya.
Perbincanganku tidak jauh dari disaat kami masih bersama, "hei kau ingat disaat kau membelikanku seikat bunga? Kamu sangatlah orang yang romantis, apakah kamu masih mengingat itu?" "tentunya," jawabku "dan aku juga mengingat mukamu saat itu, muka manismu saat kau kaget melihatku membawa bunga-bunga itu." Kami bertukar tawa setelah perkataanku. "dan sepertinya mukamu tetap semanis dahulu." lanjutku. Disaat aku mengucapkan itu, aku tidak bergurau kepada kalian aku melihat senyuman yang sama ketika aku mengucapkan cinta kepada Rina.
Dengan melihat senyum itu aku tidak dapat bertahan dengan niatku unttk berhubungan dengannya lagi seperti di 'masa lalu'. Kami berbincang lagi pada malam itu, terkadang kami berbicara 'masa lalu', terkadang 'masa kini'. Aku dengan halus memberikan kesan untuk kembali berhubungan lagi dengannya, dan Rina tetap tersenyum lagi.
Sedikit demi sedikit dari kami yang berbincang menyender ke kursi masing-masing sekarang kami saling bertatapan diatas meja. Kalimat demi kalimat kami terus berbincang, dengan perkalimat seperti meeratkan kami kembali. Pada akhirnya Rina bertanya kepadaku, "Hei, apakah kau pernah berpikir apa yang akan terjadi apabila kita tidak berpisah?" Pertanyaan yang tepat kata hatiku. Aku membalas pertanyaannya dengan menggenggam tangannya dan berkata "Selalu."
Setelah aku berkata itu Rina meminta tagihan untuk makan malam kami. Rina tidak membalas ucapanku tetapi dia tidak melepaskan tanganku. Kamipun membayar makan malam kami, Rina tetap tidak berkata ketika membayar. Disaat kami keluar dari restoran itu aku tidak ingin malam ini untuk berakhir seperti ini.
"Rin-" disaat aku memanggil namanya aku terpotong oleh Rina yang menaruh kedua tangannya dengan lembut ke pipiku, aku membalasnya dengan menggenggam tangannya. Rina memajukan kepalanya, begitupun aku. Rina memejamkan matanya, aku menaruh tanganku kepipinya dan juga memejamkan mata. Selanjutnya aku tidak bisa berkata apapun, karena kepala Rina sekarang sedang berada di dadaku dan mulai menangis.
"Maafkan aku Dino, aku berpikir aku bisa melakukan ini te-tetapi aku tidak bisa," Rina menggagap di dadaku dan aku tidak tahu harus berkata apa, "kau tahu Dino? Kamu tetap seperti dulu, sebuah lelaki yang baik dan tahu bagaimana untuk bersikap kepada perempuan." Hatiku sedikit sakit mendengar perkataannya, "Sedangkan aku bukanlah perempuan yang kau kenal dahulu." Rina mengangkat kepalanya dan menunjukan sesuatu ditangannya. "Kau lihat ini Dino?" Aku tidak memahami apa maksud Rina menunjukan itu kepadaku. Barang kecil itu membuatku hilang akal, dan Rinapun terlepas dari peganganku. "Maafkan aku Dino...". dan dia berlari bersama cincin nikahnya.
Hujan mulai turun, dan aku terdiam disana. Sungguh ketika dia memnta maaf kepadaku aku melihatnya merintihkan air mata. Aku merasa bersalah, bukan karena aku berusaha memikat perempuan yang sudah menikah. Bukan, melainkan karena aku melakukan hal yang sama seperti Rina.
Thursday, 30 June 2016
Sunday, 19 June 2016
Dia
Aku teringat akan peristiwa yang terjadi pada malam dipenuhi dengan rintik hujan yang seperti akan menelan hati dan senyumnya. Aku hanya bisa berdiri di depan dia dan terkejut dengan apa yang sudah terjadi dengannya. Apa yang dunia telah lakukan kepadanya dan Dia tetap tersenyum pada malam itu tetap menjadi sebuah misteri bagiku.
Aku bertetap bersama dia pada malam itu. Aku berdiam, dan Dia tersenyum tanpa alasan.
"Mengapa kau tersenyum?"
"Kamu disini, dan aku hanyalah orang yang rapuh akan dunia. Tetapi kamu disini."
Aku tidak tersenyum atau mengerut dari ucapannya. Aku hanya berdiam dalam kesunyian malam yang ditemani rintik hujan.
