The memes are posts of MemeCenter. Too look the site click here

Sunday, 18 September 2016

Abandoned but not forgotten

It seems like long time that I haven’t seen her. The last time I did I think is when we were still together, but now that she is in front of me I’m still not sure that the woman in front of me is her. She turns this way, and surprised me by calling my name, “Randy!” I don’t know if it’s the luminosity from the streetlights but she looks more beautiful now. From that moment there’s something awakened in my heart, an intention I don’t know I should follow or not. She then walk towards me and makes me more surprised by hugging me! With a feeling not to be impolite I respond by hugging her back, with this my intention grows bigger.

Her hair smells nice, I remember when we first started dating. Somehow that night is not too different from this, in a cold night, she looks beautiful and we hug but this time I didn’t end our hug with a kiss only by a smile. She smiles back at me, “Its been a long time Randy,” she says “somehow it’s not so different than our first date huh?” Ohh, when she says that I immediately have an urge to kiss her but I held back. “Yeah, it kind of does”

After that we talked a little bit and then she propose we go to a cafe nearby from there, so we could chat some more. You know, for old-time sake. We chat and we chat some more but this time we sometimes hold hands, and intertwined our fingers. I became more aware of her and the intention that I had before grows some more rather than goes dim. In the middle of our talk — I don’t remember how the conversation lead to there — she said “How come we broke up Randy? I mean why we did that.” I don’t know how to answer that question but I replied with, “Don’t know, and don’t want to remember.” I said jokingly. After that our conversation never goes to that direction anymore, but I can see by the way she acts. That she is interested in me again. With this my intention became sure.

The night is ending, and the cafe is almost closed. We laugh at our past, we talked about how we feel when we were happy and sad when we were still together but still the night is still have to end, how it ended I don’t know. We then go outside while holding our hands together, “I had fun tonight.” She says while smiling at me. I smile back and said, “So did I.” She releases her hand from me, but then both of them goes to behind my neck. She leans to me and I responded by leaning my head to her. She goes closer to me, at first my eyes focused on her lips but I slowly close my eyes. By the time I close my eyes, my lips taste nothing but my chest feels something is pressing me. I opened my eyes and her head is on my chest, and she whispered, “I’m sorry.”

She pulls her hand. Tears is showing from her eyes. “I’m sorry, Randy. I thought I could do this,” I stand there and did nothing, don’t know what to do. She puts her hands to her pocket, and pulls out this tiny object. It’s a ring. “You see I’m already married, I’m sorry Randy. I thought I could do this. When I first saw you there is something awakened in my heart, and I won’t deny it. I still remember all the dates you have taken me into. I will always remember what you have given me, all the laughs and memories. But still I can’t have you. I’m sorry.” She walks away.
I stand there speechless, not knowing what to do. I felt I have been cheated, but more to surprised. Not because of what she said, but because the same intention as me. To cheat.
In that cold night I walked away too, but now with a ring in my finger again.

Friday, 2 September 2016

Halo dari kampus!

Perjalanan sudah sampai sini ternyata! Dari kecilnya tk ke sd ke smp dan ke smp sekaraang sedang berada di universitas. Sebenarnya sebelum gua masuk kesini gua sangatlah berantusias untuk mulai belajar. Namun seperti biasa realita tidak selalu sama dengan mimpi. Iya gua juga belajar disaat guaberada disini namun gua seperti tidak melakukan hal yang berbeda seperti disaat dibangku SMA. Aneh bukan? Guapun berfikiran seperti itu.

Namun gua disini membuat post blog ini bukan untuk mengeluh. Gua sedikit sadar kalo memang ingin merubah sesuatu kita harus memulai dari diri sendiri. Namun pernahkah kalian merasakan rasa yang pernah kurasakan ini?

Jujur sebenernya sih gua ga tau apa yang pengen gua tulis disini. Gua hanya ingin menulis sesuatu dan ini adalah hasilnya. Ga berstruktur tetapi semoga bermanfaat. (walaupun sepertinya sih ngga wakakakak)

HAVE A NICE DAY GUYS!

Thursday, 21 July 2016

Sebuah bunga di petik hari ini, bersama dengan durinya.

Sesuatu yang indah tetapi orang-orang memetiknya.

Mengapa orang-orang menginginkan sesuatu yang indah dengan mengambil untuknya sendiri?

Keindahan membuat keinginan.

Keinginan menimbulkan hasrat.


Monday, 11 July 2016

Di Tinggalkan Tapi Tak Terlupakan

Aku menoleh kebelakang, kukira aku hanya berkhayal tetapi khayalan itu membalas tatapanku.
"Rina?-" secara bersamaan dia juga membalas, "Dino?"

Seseorang yang takku kira akan bertemu lagi, Rina denganku pernah berhubungan dahulu namun setelah aku bertemu dengannya lagi aku tidak mengingat mengapa aku berpisah dengannya.

Kami berbalas kalimat-kalimat basa-basi seperti, "kamu bagaimana?", "apakah kamu sehat?", dan yang lainnya sampai Rina tiba-tiba mengajakku untuk makan malam. Untuk 'masa lalu' katanya.

Rina duduk di seberang meja dariku, disaatku perhatikan sepertinya ia menjadi semakin menawan setelah berpisah denganku. Aku akui setelah aku bertemu dengannya lagi, aku merasa ketertarikanku kepadanya kembali. Entah mengapa, dan kupikir selagi aku sedang bersamanya mengapa tidak berusaha membalikan hubungan kita lagi. Ya, demi 'masa lalu' tentunya.

Perbincanganku tidak jauh dari disaat kami masih bersama, "hei kau ingat disaat kau membelikanku seikat bunga? Kamu sangatlah orang yang romantis, apakah kamu masih mengingat itu?" "tentunya," jawabku "dan aku juga mengingat mukamu saat itu, muka manismu saat kau kaget melihatku membawa bunga-bunga itu." Kami bertukar tawa setelah perkataanku. "dan sepertinya mukamu tetap semanis dahulu." lanjutku.  Disaat aku mengucapkan itu, aku tidak bergurau kepada kalian aku melihat senyuman yang sama ketika aku mengucapkan cinta kepada Rina.

Dengan melihat senyum itu aku tidak dapat bertahan dengan niatku unttk berhubungan dengannya lagi seperti di 'masa lalu'. Kami berbincang lagi pada malam itu, terkadang kami berbicara 'masa lalu', terkadang 'masa kini'. Aku dengan halus memberikan kesan untuk kembali berhubungan lagi dengannya, dan Rina tetap tersenyum lagi.

Sedikit demi sedikit dari kami yang berbincang menyender ke kursi masing-masing sekarang kami saling bertatapan diatas meja. Kalimat demi kalimat kami terus berbincang, dengan perkalimat seperti meeratkan kami kembali. Pada akhirnya Rina bertanya kepadaku, "Hei, apakah kau pernah berpikir apa yang akan terjadi apabila kita tidak berpisah?" Pertanyaan yang tepat kata hatiku. Aku membalas pertanyaannya dengan menggenggam tangannya dan berkata "Selalu."

Setelah aku berkata itu Rina meminta tagihan untuk makan malam kami. Rina tidak membalas ucapanku tetapi dia tidak melepaskan tanganku. Kamipun membayar makan malam kami, Rina tetap tidak berkata ketika membayar. Disaat kami keluar dari restoran itu aku tidak ingin malam ini untuk berakhir seperti ini.

"Rin-" disaat aku memanggil namanya aku terpotong oleh Rina yang menaruh kedua tangannya dengan lembut ke pipiku, aku membalasnya dengan menggenggam tangannya. Rina memajukan kepalanya, begitupun aku. Rina memejamkan matanya, aku menaruh tanganku kepipinya dan juga memejamkan mata. Selanjutnya aku tidak bisa berkata apapun, karena kepala Rina sekarang sedang berada di dadaku dan mulai menangis.

"Maafkan aku Dino, aku berpikir aku bisa melakukan ini te-tetapi aku tidak bisa," Rina menggagap di dadaku dan aku tidak tahu harus berkata apa, "kau tahu Dino? Kamu tetap seperti dulu, sebuah lelaki yang baik dan tahu bagaimana untuk bersikap kepada perempuan." Hatiku sedikit sakit mendengar perkataannya, "Sedangkan aku bukanlah perempuan yang kau kenal dahulu." Rina mengangkat kepalanya dan menunjukan sesuatu ditangannya. "Kau lihat ini Dino?" Aku tidak memahami apa maksud Rina menunjukan itu kepadaku. Barang kecil itu membuatku hilang akal, dan Rinapun terlepas dari peganganku. "Maafkan aku Dino...". dan dia berlari bersama cincin nikahnya.

Hujan mulai turun, dan aku terdiam disana. Sungguh ketika dia memnta maaf kepadaku aku melihatnya merintihkan air mata. Aku merasa bersalah, bukan karena aku berusaha memikat perempuan yang sudah menikah. Bukan, melainkan karena aku melakukan hal yang sama seperti Rina.

Thursday, 30 June 2016

Takdir

Ketegangan hati menunggu

Dengan takdir membawanya

Dan waktu menghalanginya