The memes are posts of MemeCenter. Too look the site click here

Thursday, 21 July 2016

Sebuah bunga di petik hari ini, bersama dengan durinya.

Sesuatu yang indah tetapi orang-orang memetiknya.

Mengapa orang-orang menginginkan sesuatu yang indah dengan mengambil untuknya sendiri?

Keindahan membuat keinginan.

Keinginan menimbulkan hasrat.


Monday, 11 July 2016

Di Tinggalkan Tapi Tak Terlupakan

Aku menoleh kebelakang, kukira aku hanya berkhayal tetapi khayalan itu membalas tatapanku.
"Rina?-" secara bersamaan dia juga membalas, "Dino?"

Seseorang yang takku kira akan bertemu lagi, Rina denganku pernah berhubungan dahulu namun setelah aku bertemu dengannya lagi aku tidak mengingat mengapa aku berpisah dengannya.

Kami berbalas kalimat-kalimat basa-basi seperti, "kamu bagaimana?", "apakah kamu sehat?", dan yang lainnya sampai Rina tiba-tiba mengajakku untuk makan malam. Untuk 'masa lalu' katanya.

Rina duduk di seberang meja dariku, disaatku perhatikan sepertinya ia menjadi semakin menawan setelah berpisah denganku. Aku akui setelah aku bertemu dengannya lagi, aku merasa ketertarikanku kepadanya kembali. Entah mengapa, dan kupikir selagi aku sedang bersamanya mengapa tidak berusaha membalikan hubungan kita lagi. Ya, demi 'masa lalu' tentunya.

Perbincanganku tidak jauh dari disaat kami masih bersama, "hei kau ingat disaat kau membelikanku seikat bunga? Kamu sangatlah orang yang romantis, apakah kamu masih mengingat itu?" "tentunya," jawabku "dan aku juga mengingat mukamu saat itu, muka manismu saat kau kaget melihatku membawa bunga-bunga itu." Kami bertukar tawa setelah perkataanku. "dan sepertinya mukamu tetap semanis dahulu." lanjutku.  Disaat aku mengucapkan itu, aku tidak bergurau kepada kalian aku melihat senyuman yang sama ketika aku mengucapkan cinta kepada Rina.

Dengan melihat senyum itu aku tidak dapat bertahan dengan niatku unttk berhubungan dengannya lagi seperti di 'masa lalu'. Kami berbincang lagi pada malam itu, terkadang kami berbicara 'masa lalu', terkadang 'masa kini'. Aku dengan halus memberikan kesan untuk kembali berhubungan lagi dengannya, dan Rina tetap tersenyum lagi.

Sedikit demi sedikit dari kami yang berbincang menyender ke kursi masing-masing sekarang kami saling bertatapan diatas meja. Kalimat demi kalimat kami terus berbincang, dengan perkalimat seperti meeratkan kami kembali. Pada akhirnya Rina bertanya kepadaku, "Hei, apakah kau pernah berpikir apa yang akan terjadi apabila kita tidak berpisah?" Pertanyaan yang tepat kata hatiku. Aku membalas pertanyaannya dengan menggenggam tangannya dan berkata "Selalu."

Setelah aku berkata itu Rina meminta tagihan untuk makan malam kami. Rina tidak membalas ucapanku tetapi dia tidak melepaskan tanganku. Kamipun membayar makan malam kami, Rina tetap tidak berkata ketika membayar. Disaat kami keluar dari restoran itu aku tidak ingin malam ini untuk berakhir seperti ini.

"Rin-" disaat aku memanggil namanya aku terpotong oleh Rina yang menaruh kedua tangannya dengan lembut ke pipiku, aku membalasnya dengan menggenggam tangannya. Rina memajukan kepalanya, begitupun aku. Rina memejamkan matanya, aku menaruh tanganku kepipinya dan juga memejamkan mata. Selanjutnya aku tidak bisa berkata apapun, karena kepala Rina sekarang sedang berada di dadaku dan mulai menangis.

"Maafkan aku Dino, aku berpikir aku bisa melakukan ini te-tetapi aku tidak bisa," Rina menggagap di dadaku dan aku tidak tahu harus berkata apa, "kau tahu Dino? Kamu tetap seperti dulu, sebuah lelaki yang baik dan tahu bagaimana untuk bersikap kepada perempuan." Hatiku sedikit sakit mendengar perkataannya, "Sedangkan aku bukanlah perempuan yang kau kenal dahulu." Rina mengangkat kepalanya dan menunjukan sesuatu ditangannya. "Kau lihat ini Dino?" Aku tidak memahami apa maksud Rina menunjukan itu kepadaku. Barang kecil itu membuatku hilang akal, dan Rinapun terlepas dari peganganku. "Maafkan aku Dino...". dan dia berlari bersama cincin nikahnya.

Hujan mulai turun, dan aku terdiam disana. Sungguh ketika dia memnta maaf kepadaku aku melihatnya merintihkan air mata. Aku merasa bersalah, bukan karena aku berusaha memikat perempuan yang sudah menikah. Bukan, melainkan karena aku melakukan hal yang sama seperti Rina.

Thursday, 30 June 2016

Takdir

Ketegangan hati menunggu

Dengan takdir membawanya

Dan waktu menghalanginya

Sunday, 19 June 2016

Dia

Sebuah keberuntungan bagiku untuk bertemu dengannya. Perempuan hebat dengan hati yang murni berpapasan dengan hidupku yang kusam. Disaat aku bertemu dengan dia, dia hanyalah seorang teman mungkin sebuah orang asing yang tidak berbeda. Namun dia terus mendatangi hidupku dengan senyum yang seperti tidak akan pudar di kehidupan ini atau berikutnya.

Aku teringat akan peristiwa yang terjadi pada malam dipenuhi dengan rintik hujan yang seperti akan menelan hati dan senyumnya. Aku hanya bisa berdiri di depan dia dan terkejut dengan apa yang sudah terjadi dengannya. Apa yang dunia telah lakukan kepadanya dan Dia tetap tersenyum pada malam itu tetap menjadi sebuah misteri bagiku.

Aku bertetap bersama dia pada malam itu. Aku berdiam, dan Dia tersenyum tanpa alasan.
  "Mengapa kau tersenyum?"
  "Kamu disini, dan aku hanyalah orang yang rapuh akan dunia. Tetapi kamu disini."
 Aku tidak tersenyum atau mengerut dari ucapannya. Aku hanya berdiam dalam kesunyian malam yang ditemani rintik hujan.

Saturday, 21 May 2016

Manusia Biasa / Regular Man

Pada hari ini aku bermimpi untuk ingin mengubah hidupku. Dengan mengubah hidupku, aku juga akan mengubah lingkunganku.

Sebuah mimpi yang akan mengubah diriku dan yang lain. Jalanku untuk mewujudkan mimpiku sangatlah jauh. 

Sebuah mimpi, hanyalah mimpi apabila tidakku laksanakan. 

Hari demi hari aku berusaha untuk menggapainya. Tetapi hari demi hari aku juga berpikir apakah usahaku cukup?

Tidak.

Seringkali aku berpikir apa yang kulakukan tidaklah cukup untuk menggapai mimpi. Meskipun begitu, usaha yang kulakukan tidak berbeda dari hari kemarin.

Usaha adalah usaha.

Mimpi adalah mimpi.

Untuk menggapainya apa yang harus kulakukan? Apakah semua usaha akan selalu mendapatkan mimpi yang kita inginkan?

Usaha yang kudambakan lebih dari ini, begitu pula dengan mimpiku.

Namun aku berpikiran, apakah orang-orang hebat dahulu juga berpikir sedimikian?

Berpikir "usaha yang telah dilakukan sudah layak" untuk mimpinya?

Aku berpikir seperti itu. Apakah aku salah? 

Tidak ada yang bisa bilang apa yang aku pikirkan itu salah, dan tidak ada juga yang bisa bilang apa yang kupikirkan itu benar.

Aku hanyalah sebuah manusia yang tinggal di bumi ini.

Aku berpikir untuk terus melaju dan tidak melihat kebelakang.

Namun aku berpikir, "apabila aku tidak melihat kebelakang bagaimana aku akan belajar?"

Aku hanyalah manusia biasa.

Dan aku hanya bisa berharap Tuhan, dan dunia akan mengabulkan mimpiku.

On this day I dream to want to change my life. By changing my life, I will also change my environment.

A dream that will transform myself and others. The path to realizing my dream still are so far.

A dream, is just a dream if I had no effort put to it.

Day after day I strive to attain. But day after day I also wonder if all my efforts is enough?

No.

Sometimes I think what I did is not enough to reach the dream. Even so, my effort didn't differ from before.

An effort is an effort.

A dream is a dream.

To reach it what should I do? Do all of our efforts will always have a dream that we want?

I craved more effort than this, so did my dream.

But I think, did the great people from the past used to also think so?

Thinking "efforts that have been made already just" for his dream?

I think so. Am I wrong?

No one can say what I think it is wrong, and there is also no one can say what I thought was right.

I'm just a human being living on this earth.

I think to keep going forward without looking back.

But I also thought, "if I do not look back how am I going to learn?"

I'm only human.


And I can only hope that God and the world will fulfill my dream.