The memes are posts of MemeCenter. Too look the site click here

Monday, 21 November 2016

Dunia Baru

Malam sunyi itu di ganggu oleh bunyi api yang membakar rerumputan yang ada di sekitar desa kami. Suara orang yang berlari dan teriakan para ibu yang menangisi anaknya yang telah terkapar, aku disana terdiam. Tidak berkutik. Kejadian itu terjadi seperti hari kemarin, dan akupun akhirnya terbangun dari mimpi burukku yang terus menghantuiku.

Namaku adalah Hari, Hari Hasanudin. Aku sekarang berumur 15 tahun, dan sekarang aku tinggal di sebuah rumah bersama teman-temanku yang lain yang mempunyai nasib yang sama denganku. Mungkin tidak separah denganku tetapi mereka telah melalui hal yang menakutkan juga bagi mereka. Tempat tinggalku bersinggah berada di tempat yang dahulu dikenal sebagai pasar burung di rawalumbu. Setelah perang besar terjadi kami para pengungsi yang masih hidup tinggal disini. Rawalumbu utara ini sudah menjadi tempat tinggal bagi kami, namun itu bukan berarti tempat ini sudah aman. Masih ada tersisa binatang liar yang tinggal disini.

Sekarang pukul empat petang. Orang-orang yang mempunyai agam Islam sedang melakukan ibadahnya yang dinamakan shalat, dan aku adalah salah satu dari mereka.

     "Har! setelah ini kamu mau kemana?' 

Ucap temanku, namanya Rio. Dia beragama sama denganku, dan juga tinggal ditempat yang sama denganku. Semenjak aku pindah kesini Rio selalu menemaniku.

     "Entah mungkin tidur lagi, mengapa?"
     "BAH! Pagi yang cerah sejuk ini kamu malah berfikiran untuk tidur? Lebih baik kita jalan-jalan pagi."
     "Aman tidak?"
     "Tidak tahu."

Ahhh kawanku yang satu ini, memang ada bodoh-bodohnya, tetapi yang dia bilang benar juga. Kapan lagi kami bisa berjalan pagi seperti ini. 

    "Yasudahlah, sebentar lebih baik kita ajak juga yang lain. Kamu banguni si Reza dan aku akan banguni Yosef."
      "Siap bosqu!"
      "Hei jangan lupa jangan berisik, nanti kita dimarahi pak tua."

Dengan semangat dia mengajukan jempolnya sambil berlari. Reza memiliki rumah yang berbeda dengan kami, Reza masih tinggal bersama keluarganya, ayahnya adalah seorang petani dan ibunya adalah satu-satunya dokter di tempat pengungsian kami. Sementara Yosef tinggal di rumah yang berbeda, keluarga Yosef yang masih tersisa hanyalah ibunya, dan dia singgah di sebuah rumah bersama yang tidak jauh dari pasar burung.

     "Yosefff, yosefff." 
     "Ada apa har?" Jawabnya sambil menguap, masih mengantuk rupanya hahahaha.

Untungnya yang menjawab adalah dia langsung, apabila ibunya aku tidak tahu caranya menarik si Yosef keluar. Ibunya terlalu protektif kepada Yosef.

     "Aku ingin jalan -jalan bersama yang lain. Kamu ikut juga ya!" Ucapku dengan tersenyum.
     "Hahhh, mau kemana memangnya kita?"
     "Tidak tahu, jalan-jalan sekitar saja mungkin."

Dia terdiam tidak menjawab. Sambil melihat aku yang sedang tersenyum-senyum, dia melihatku dengan datar.

      "Aman tidak?"
      "Tidak tahu."
      "Mau ngapain memangnya jalan-jalan?
      "Tidak tahu."
      "Rencana si Rio ya?"
      "Tentunya."
      "Hahhhh, yasudah aku ganti baju dulu."
      "Asekkk, aku tunggu di depan pintu sekolah ya!"

Yosef mengangguk dengan muka yang masih ngantuk itu dan dia kembali ke dalam. Aku berjalan kembali ke rumahku untuk menaruh sarung yang masih di pundakku ini. Dengan tiba-tiba hal yang tidak di rencanakan terjadi.

      "Mau kemana har?"

Ahhhh suara itu, tidak mungkin aku tidak mengenal suara itu. Suara merdu yang terkadang mengerikan.

      "umm, mau jalan-jalan. Hehehe." Dalam hati aku berkata mampuslah aku.
      "Wahhh ikut dong akuuu." Ohh sangat mampus aku.

Orang yang ingin ikut ini benama Mawar, dia adalah anak perempuan ketua kami. Aku tidak masalah membawa dia untuk jalan, yang membawa maslaah adalah ayahnya. Kalau aku membawanya pasti pak tua itu akan memuncratkan tegurannya ke aku. Kalau tidak kuajak dia bisa mengadu ke pak tua kalau dia tidak diperbolehkan untuk ikut jalan-jalan. Sekali lagi mampuslah aku.

     "umm, kamu boleh ikut. Tapi janji kepadaku ya, jangan kamu kasih ke pak tua."
     "Yayyy!" Dia menjingkrak senang setelah kuajak. 

Harus kuakui, walaupun ayahnya adalah si pak tua yang bagiku keras anaknya ini sungguh cantik menawan. UM TAPI BUKAN BERARTI AKU SUKA PADA DIA YA. *uhuk* baik satu masalah ini sudah selesai dan kuajak dia ke sekolah yang berada di sebelah pasar burung itu. Hahaaa muka mereka ketika aku membawa Mawar ohh sungguh aku tahu betul dalam pikiran mereka apa.

"MAMPUS LAHH KITAAAAAA!!!!"

dan akhirnya kita pun berjalan.